Minggu, 15 April 2012

Mengenal Sejarah Mtematika


Oleh: Diah Saputri
 (Matematika Swadana 2010 / 10305144031)

Dari video yang saya lihat kemarin, video tersebut mencertikan bagaimana matematika itu berkembang dari Timur ke Barat hingga melahirkan dunia modern. Pertama dari tembok besar Cina pada 220 BC. Ketika membangun tembok Cina, matematikawan Cina kuno menyadari bahwa mereka perlu melakukan perhitungan akan jarak, sudut elevasi dan jumlah material yang ada. Dasar matematika Cina kuno adalah bilangan sederhana dengan menggunakan bambu kecil, bambu tersebut mereka susun pada kolom yang mewakili satuan, puluhan, ratusan dst. Seperti yang saat ini telah kita gunakan, yaitu menggunakan angka satu sampai simbilan. Cina kuno menggunakan sistem nilai tapi dengan simbol yang ditulis kebawah, hal ini karena mereka tidak mempunyai konsep nol. Selain itu orang Cina kuno masih percaya akan kemistisan angka hal ini terlihat bahwa mereka percaya angka ganjil itu untuk laki-laki, angka 8 untuk memberikan keberuntungan dan mereka menghindari angka 4 dalam biaya.
Sedangkan orang Tiongkok kuno tertarik akan pola penjumlahan yang kemudian mereka kembangkan menjadi sodoku atau yang terkenal dengan persegi ajaib, diamana jumlah angka hosisontal, vertikal maupun diagonalnya adalah 15. Disini matematika berperan penting dalam menjumlahkan kelender dan pergerakan planet. Di Tiongkok terdapat kerajaan dimana kaisarnya punya 121 wanita dan caisar harus tidur dengan mereka semua dalam waktu yang berbeda-beda maka wanita itu dikelompokkan menurut kastanya maka setiap wanita memiliki waktu yang sama. Hal ini tidak lah porno karena dari situlah tercipta konsep deret ukur.  Pada abad 19 negara Barat belum mengenal sistem persamaan pecahan tetapi di Cina sudah mengenal sistem ini, meski belum digunakan untuk memecahkan persamaan dalam jumlah besar. Dan pada abad 6, orang cina telah menemukan teorema sisa Cina yang digunakan untuk bidang astronomi, yaitu mengukur pergerakan planet dan digunakan untuk pengkodean pada pemrograman.  Abad 13, Qin Jiushao seorang matematikawan dari Cina mencoba memecahkan persamaan. Dan Qin menemukan cara memecahkan persamaan kubik, dia juga mengetahui volum bangunan dan hubungan antar dimensi. Isaac Newton juga memiliki metode yang mirip dan dapat diterapkan tapi persamaan lebih rumit. Disini Qin melibatkan angka sampai sepuluh tapi ia kesulitan dalam memberikan perkiraan solusi padahal matematika merupakan ilmu pasti yang harus mempunyai jawaban pasti.
Ternyata tidak hanya di Cina kuno sistem tempat desimal ditemukan tetapi orang India juga telah menemukan. Orang India juga telah menyempurnakan angka yang digunakkan saat ini. Angka nol ditemukan di dinding candi kecil di benteng dari Gwalior di India tengah. Di Yunani, matematikawan menganggap nol tidak ada, sedangkan di Mesir, Mesopotamia dan Cina, nol merupakan ruang kosong untuk menunjuk nol dalam angka. Kemungkinan ketika setelah menulis dengan batu kemudian dihapus terdapat lubang kecil ini kemudian disebut nol. Menurut orang India alam semesta lahir dari ketidakadaan dan ketiadaan.
Pada abad 7, Brahmagupta dari India menemukan sifat-sifat nol dan cara menghitung dari sifat-sifat nol. Akan tetapi dia menemukan kesulitan dalam membagi bilangan dengan nol. Maka pada abad 12, Bhaskara II, melakukan eksperimen dengan sebuah buah-buahan. Pertama ia membagi buah tersebut menjadi dua ia mendapatkan dua bagian. Kemudian ia membagi buah menjadi tiga dan ia mendapat tiga bagian yang sama. Dari sinilah ia mendapatkan bahwa jika buah tersebut dibagi lebih banyak maka ia kan mendapatkan potongan-potongan yang lebih kecil dan lebih banyak. Sehingga ia menyimpulkan bahwa bilangan yang dibagi dengan nol hasilnya tak terhingga. Di India juga ditemukan bilangan negatif atau sering disebut oleh mereka dengan “hutang”. Sehingga Brahmagupta memahami tentang angka negatif dan ia menganggap bahwa suatu persamaan kuadrat pasti punya 2 solusi, yang mungkin salah satunya bisa angka negatif.
Fermat dari Perancis juga mulai menemukan cara memecahkan persamaan kuadrat. Dia melakukkan percobaan dengan cara menulis persamaan kebawah menggunakan inisial nama warna yang berbeda untuk mewakili apa yang tidak diketahui dari persamaan, yang pada akhirnya berkembang seperti sekarang ini yang kita kenal dengan variabel x dan y. Matematikawan India  kuno juga telah menemukan dasar trigonometri meski yang mengembangkan pertama kali adalah orang Yunani kuno. Di Delhi, para astronom mempelajari bintang-bintang menggunakan trigonometri, yaitu jarak bumi dan bulan, bumi dan matahari. Sehingga akan membentuk segitiga siku-siku.Meski orang Yunani kuno merupakan orang pertama yang mengembangkan sinus tapi mereka tidak dapat menghitung sinus pada setiap sudutnya.
Abad awal abad 16 di India, Aryabata menemukan pi yang akurat yaitu 3,1416, kemudian ia melanjutkannya untuk membuat pengukuran bumi. Pada abad 15, Madhava menemukan jumlah ketakterbatasan. Ia juga menyadari bahwa ia bisa menggunakan infiniti untuk mendapatkan nilai pi uang akurat. Yaitu dengan cara berturut-turut menmbahkan dan mengurangkan pecahan yang berbeda.
Abad 7, kerajaan islam mulai menyebar di Timur Tengah. Ajaran Nabi mengilhami daerah dan sampailah kerajaan islam di India Timur. Fez mempelajari subjek dalam bidang astronimi, kedokteran, kimia dan matematika. Pada masa itu, dalam suatu universitas, para ulama dikumpulkan untuk menerjemahkan teks kuno dan menyimpannya untuk anak cucu. Beruntunglah kita berkat mereka kini kita mengenal Mesir, Babilonia, Yunani, dan India. Salah satu matematikawan dari Arab adalah Al khawarizmi yang mengenalkan angka satu sampai sembilan dan nol. Dia juga merupakan penemu aljabar dan ia memiliki buku yang berjudul Al Jabar Wa’air muqabala (perhitungan dengan restorasi atau pengurangan).
Holy Grail menemukan metode untuk memecahkan pesamaan kubic. Pada abad 11, Omar Khayam dari Persia juga menemukan metode umum untuk memecahkan persamaan kubic. Pada abad 13, di Eropa mulai mengeksplorasi perdagangan dengan Timur. Dari sinilah pengetahuan mulai masuk ke Eropa. Contohnya adalah  Leonardo / Fibonaci dari Pisa menemukan beberapa angka yang disebut deret Fibonaci. Hal ini didasari dari perkawinan kelinci, ilustrasinya seperti berikut: kelinci butuh waktu dua bulan untuk kematangan setelah itu baru melahirkan sepasang kelinci. Sehingga timbul pemikiran berapa banyak pasang kelinci lahir dalam setiap bulannya. Awal bulan pertama kelinci belum dapat melahirkan sehingga masih terdapat sepasang kelinci. Pada bulan kedua sepasang kelinci belum melahirkan juga karena belum cukup matang. Pada bualan ketiga melahirkan dua pasang kelinci, sehingga sekarang kelincinya ada dua pasang. pada bualan ke empat sepasang kelinci pertama melahirkan lagi tetapi sepasang kelinci yang lain belum dapat melahirkan, sehingga sekarang kelincinya ada tiga pasang, dan seperti itu seterusnya. Sehingga jika kita tulis dalam bentuk deret adalah seperti berikut : 1, 1, 2, 3... .
Pada abad 16, Tartaglia menemukan formula untuk memecahkan persamaan kubic, tapi dia hanya tahu memecahkan satu persamaan kubic saja. Oleh karena itu ia ditantang oleh Fior untuk menyelesaikan persamaan kubic yang lain karena ia menganggap bahwa Tartaglia tidak akan mampu menjawab tantangannya. Tapi beberapa saat sebelum kontes Tartaglia telah menemukan cara menyelesaikan persamaan kubic yang lain. Sehingga ia dapat menjawab tantangan Fior kurang dari dua jam. Keberhasilan Tartaglia ini  begitu cepat menyebar hingga Millan. Seorang matematikawan bernama Cardano meminta rahasia Tartaglia akan pemecahan persamaan tersebut dan berjanji tidak akan membongkarnya, tetapi pada kenyataannya dia menggunakan rahasia itu sendiri untuk menyelesaikan persamaan kubic bersama Ferrari brilian. Sehingga sampai saat ini persamaan kubik dikenal sebagai rumus Cardano.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar