Oleh: Diah Saputri (Matemtaika Swa’10 / 10305144031)
Dalam sejarah perkembangan logika, banyak
definisi dikemukakan oleh para ahli, yang secara umum memiliki banyak
persamaan. Beberapa pendapat tersebut antara lain:
The Liang Gie dalam bukunya Dictionary of
Logic (Kamus Logika) menyebutkan: Logika adalah bidang pengetahuan dalam
lingkungan filsafat yang mempelajari secara teratur asas-asas dan aturan-aturan
penalaran yang betul (correct reasoning). Menurut Mundiri dalam bukunya
tersebut Logika didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari metode dan
hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dari penalaran
yang salah.
Secara etimologis, logika adalah istilah
yang dibentuk dari kata logikos yang berasal dari kata benda logos.
Kata logos berarti: sesuatu yang diutarakan, suatu pertimbangan akal (fikiran),
kata, atau ungkapan lewat bahasa. Kata logikos berarti mengenai
sesuatu yang diutarakan, mengenai suatu pertimbangan akal, mengenai kata,
mengenai percakapan atau yang berkenaan dengan ungkapan lewat bahasa. Dengan
demikian, dapatlah dikatakan bahwa logika adalah suatu pertimbangan akal atau
pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Sebagai ilmu,
logika disebut logike episteme atau dalam bahasa latin disebut logica
scientia yang berarti ilmu logika, namun sekarang lazim disebut dengan logika
saja.
Definisi umumnya logika adalah cabang
filsafat yang bersifat praktis berpangkal pada penalaran, dan sekaligus juga
sebagai dasar filsafat dan sebagai sarana ilmu. Dengan fungsi sebagai dasar
filsafat dan sarana ilmu karena logika merupakan “jembatan penghubung” antara
filsafat dan ilmu, yang secara terminologis logika didefinisikan: Teori tentang
penyimpulan yang sah.
Berdasarkan proses penalarannya dan juga
sifat kesimpulan yang dihasilkannya, logika dibedakan antara logika deduktif
dan logika induktif. Logika deduktif adalah proses penalaran untuk menarik
kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku khusus berdasarkan atas
fakta-fakta yang bersifat umum.. Logika deduktif berbicara tentang hubungan
bentuk-bentuk pernyataan saja yang utama terlepas isi apa yang diuraikan karena
logika deduktif disebut pula logika formal. Penalaran induktif adalah
proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang
berlaku umum berdasarkan fakta – fakta yang bersifat khusus.
Sesungguhnya, sejak Thales (624-548
SM), filsuf Yunani pertama, meninggalkan segala dongeng, takhayul, dan
cerita-cerita isapan jempol belaka dan berpaling kepada akal budi untuk
memecahkan rahasia alam semesta, sejak saat itulah ia meletakkan dasar-dasar
berpikir logis. Bahkan, ketika Thales mengatakan bahwa air adalah arkhe
(prinsip atau asas pertama) alam semesta, ia secara tidak sengaja telah
memperkenalkan apa yang sekarang disebut sebagai logika induktif. Aristoteles kemudian mengenalkan logika sebagai ilmu, yang
kemudian disebut logica scientica. Aristoteles mengatakan bahwa Thales
menarik kesimpulan, bahwa air adalah arkhe alam semesta dengan alasan
bahwa air adalah jiwa segala sesuatu. Dalam logika Thales, air adalah arkhe
alam semesta, yang menurut Aristoteles disimpulkan dari:
- Air adalah jiwa tumbuh-tumbuhan (karena tanpa air tumbuhan mati)
- Air adalah jiwa hewan dan jiwa manusia
- Air jugalah uap dan
- Air jugalah es
Jadi, air adalah jiwa dari segala sesuatu, yang berarti,
air adalah arkhe alam semesta.
Sejak Thales sang filsuf mengenalkan
pernyataannya, logika telah mulai dikembangkan. Adapun peletak batu pertama
adalah Socrates, kemudian dilanjutkan oleh Plato dan dilengkapi lagi oleh
Aristoteles, yang menyusun ilmu ini dengan pembahasan-pembahasan yang
teratur dan dibuat persoalan pasal demi pasal serta ilmu ini dijadikan
dasar dari imu filsafat. Dengan demikian, maka Aristoteles diberi gelar guru
pertama dari ilmu pengetahuan. Ilmu ini sejak dari zaman Aristoteles tidak ada
tambahan apa-apa. Baru setelah lahir ahli-ahli filsafat islam di abad
pertengahan, disitulah banyak tambahan dalam persoalan-persoalan, apalagi
pembahasan mengenai lafadnya banyak ditambah oleh ahli-ahli filsafat Islam.
Pada waktu itu, Aristoteles belum
menggunakan istilah logika dalam menamai ilmu tersebut. Akan tetapi ia
mengunakan nama, Analika yang secara khusus meneliti berbagai
argumentasi yang berangkat dari proposisi yang benar dan dialektika yang
secara khusus meneliti argumentasi yang berangkat dari proposisi yang masih
diragukan kebenaranya. Aristoteles mewariskan kepada murid-muridnya enam buku
yang oleh murid-muridnya dinamai Organon, yang berarti alat.
Keenam buku itu ialah:
- Categoriae, menguraikan pengertian-pengertian
- De interpretatione, membahas keputusan-keputusan
- Analyticapriora, membahas tentang pembuktian
- Analitica posteriora, membahas tentang silogisme
- Topica, berisi cara berargumentasi dan cara berdebat
- De sophisticis elenchis, membicarakan kesesatan dan kekeliruan berpikir
Inti logika Aristoteles adalah silogisme.
Dan silogisme itulah yang sesungguhnya merupakan penemuan murni
Aristoteles dan yang terbesar dalam logika. Pada dasrnya silogisme terdiri dari
tiga premis yaitu premis mayor, premis minor, konklusi. Aristoteles dianggap
bapak logika karena dia mampu meletakkan dasar-dasar dan metode ilmiah secara
sistematis.
Theophrastus (370-288 SM), murid
Aristoteles yang menjadi pemimpin Lyceum, melanjutkan karya-karya
Aristoteles, termasuk bidang logika. Istilah logika pertamakali digunakan oleh Zeno
dari Citium (334-262 SM), pelopor kaum Stoa. Kaum Stoa itulah yang
mengembangkan bentuk-bentuk argument disyungtif dan hipotesis.
Puncak kejayaan kaum Stoa ialah ketika Chrysippus (280-207 SM) menjadi pimpinan
mereka (pemimpin ketiga dan yang terbesar) sehingga lahirlah satu ungkapan yang
mengatakan, “Tanpa Chrysippus, Stoa tidak akan pernah ada.” Chrysippus
mengembangkan logika menjadi bentuk-bentuk penalaran yang sistematis.
Theoprastus (371-287 SM), memberi
sumbangan terbesar dalam logika ialah penafsirannya tentang pengertian yang mungkin
juga tentang sebuah sifat asasi dari setiap kesimpulan. Kemudian, Porphyrius
(233-306 M), seorang ahli pikir di Iskandariah menambahkan satu bagian baru
dalam pelajaran logika. Bagian baru ini disebut Eisagoge, yakni sebagai
pengantar Categorie. Dalam bagian baru ini dibahas lingkungan-lingkungan
zat dan lingkungan-lingkungan sifat di dalam alam, yang biasa disebut dengan klasifikasi.
Dengan demikian, logika menjadi tujuh bagian.
Logika pada perkembanganya kemudian
sempat mengalami masa dekadensi yang panjang. Logika bahkan dianggap sudah
tidak bernilai dan dangkal sekali, barulah pada abad ke-13 sampai dengan Abad ke-15
tampil beberapa tokoh lain seperti Petrus Hispanus, Roger Bacon, Raymundus
Lullus dan Wilhelm Ocham yang coba mengangkat kembali ilmu logika sebagai salah
satu ilmu yang penting untuk disejajarkan dengan ilmu-ilmu penting lainnya.
Petrus Hispanus yang meninggal pada
1277 M menyusun pelajaran logika berbentuk sajak, bukunya itu menjadi buku
dasar bagi pelajaran logika sampai abad ke-17. Petrus Hispanus inilah yang
mula-mula mempergunakan berbagai nama untuk sistem penyimpulan yang sah dalam
perkaitan bentuk silogisme kategorik dalam sebuah sajak. Dan kumpulan sajak
Petrus Hispanus mengenai logika ini bernama Summulae.
Francis Bacon (1561-1626 M)
mengembangkan logika induktif yang diperkenalkan dalam bukunya Novum Organum
Scientiarum. Tulisan Bacon terpenting adalah menyangkut falsafah ilmu
pengetahuan. Dia merencanakan suatu kerja besar Instauratio Magna atau Great
Renewal dalam enam bagian. Bagian pertama dimaksud untuk meninjau kembali
keadaan ilmu pengetahuan kita. Bagian kedua menjabarkan sistem baru penelaahan
ilmu. Bagian ketiga bersisikan kumpulan data empiris. Bagian keempat berisi
ilustrasi sistem baru ilmiahnya dalam praktek. Bagian kelima menyuguhkan
kesimpulan sementara. Dan bagian keenam suatu sintesa ilmu pengetahuan yang
diperoleh dari metode barunya. Tidaklah mengherankan,
skema raksasa ini –mungkin pekerjaan yang paling ambisius sejak Aristoteles
yang tak pernah terselesaikan. Tetapi, buku The Advancement of Learning
(1605) dan Novum Organum (1620) dapat dianggap sebagai penyelesaian
kedua bagian dari kerja raksasanya.
.Pembaruan logika di Barat
berikutnya disusul oleh lain-lain penulis di antaranya adalah Gottfried
Wilhem von Leibniz, atau biasa dieja Leibnitz atau Von Leibniz.
Ia menganjurkan penggantian pernyataan-pernyataan dengan simbol-simbol agar
lebih umum sifatnya dan lebih mudah melakukan analisis. Ia terutama terkenal
karena faham Théodicée bahwa manusia hidup dalam dunia yang sebaik
mungkin karena dunia ini diciptakan oleh Tuhan Yang Sempurna. Faham Théodicée
ini menjadi terkenal karena dikritik dalam buku Candide karangan Voltaire.
John Stuart Mill pada tahun
1843 mempertemukan sistem induksi dengan sistem deduksi. Setiap pangkal pikiran
besar di dalam deduksi memerlukan induksi dan sebaliknya induksi memerlukan
deduksi bagi penyusunan pikiran mengenai hasil-hasil eksperimen dan
penyelidikan. Jadi, kedua-duanya bukan merupakan bagian-bagian yang saling
terpisah, tetapi sebetulnya saling membantu. Mill sendiri merumuskan
metode-metode bagi sistem induksi, terkenal dengan sebutan Four Methods.
Logika Formal sesudah masa Mill
lahirlah sekian banyak buku-buku baru dan ulasan-ulasan baru tentang logika.
Dan sejak pertengahan abad ke-19 mulai lahir satu cabang baru yang disebut
dengan Logika-Simbolik. Pelopor logika simbolik pada dasarnya sudah dimulai
oleh Leibniz.
Logika simbolik pertama dikembangkan
oleh George Boole dan Augustus de Morgan. Boole secara sistematik dengan
memakai simbol-simbol yang cukup luas dan metode analisis menurut matematika dan
Augustus De Morgan (1806-1871) merupakan seorang ahli matematika Inggris
memberikan sumbangan besar kepada logika simbolik dengan pemikirannya tentang
relasi dan negasi.
Tokoh logika simbolik yang lain
ialah John Venn (1834-1923), ia berusaha menyempurnakan analisis logika dari
Boole dengan merancang diagram lingkaran-lingkaran yang kini terkenal sebagai
diagram Venn (Venn’s diagram) untuk menggambarkan hubungan-hubungan dan
memeriksa sahnya penyimpulan dari silogisme. Untuk melukiskan hubungan
merangkum atau menyisihkan di antara subjek dan predikat yang masing-masing
dianggap sebagai himpunan.
Perkembangan logika simbolik
mencapai puncaknya pada awal abad ke-20 dengan terbitnya 3 jilid karya tulis
dua filsuf besar dari Inggris Alfred North Whitehead dan Bertrand Arthur
William Russell berjudul Principia Mathematica (1910-1913) dengan jumlah
1992 halaman. Karya tulis Russell-Whitehead Principia Mathematica memberikan
dorongan yang besar bagi pertumbuhan logika simbolik.
Referensi :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar