Oleh:
Diah Saputri (Matematika Swa’10 / 10305144031)
Dasar
dari matematika merupakan pola pikir kita. Dimana matematika itu sebagai ilmu
baru, sebagai struktur, sebagai kreatifitas, dan sebagai proses, yang semua itu
merupakan dasar yang dapat digunakan untuk mendukung dan menelaah tentang
sejarah matematika. Oleh karena itu sejarah itu penting untuk dipelajari agar
kita dapat menjawab apa itu matematika hidup, ataupun matematika itu berasa.
Tanpa mempelajari sejarah kita tidak akan menemukan jawaban atas pertanyaan
itu. Semua orang tak akan lepas dengan matematika karena dimana orang hidup
pasti disitu ada matematika. Menurut Plato matematika itu terdiri dari ruang
dan waktu. Apabila matematika itu tidak terdapat waktu maka apabila sekarang
kita hidup maka saat ini juga kita mati. Sedangkan matematika tanpa ruang, ini
berarti tidak adanya jauh ataupun dekat. Misalkan saja saya saat ini berada di
kelas maka nanti saya juga ada dikelas. Ini merupakan manipulasi akan ruang dan
waktu.
Matematika
itu berkaitan dengan wadah dan isi. Wadah yang memiliki pesamaan seperti tulang
kerangka, skema, metode atau formal. Sedang kan isi memiliki persamaan kata
seperti subtansi, hakekat, obyek, atau material. Matematika itu relatif
terhadap ruang dan waktu, ini terlihat seperti contoh berikut, 3 ditambah 5
akan sama dengan 8 jika kita mengabaikan ruang dan waktu. Karena apabila kita
tidak mengabaikan ruang dan waktu maka 3 buku ditambah 5 pensil tidak akan sama
dengan 8 buku. Hal inilah yang disebut dengan matematika diluar pikiran kita.
Atau lebih jelasnya matematika diluar pikiran adalah jika kita bisa menunjukkan
obyek yang kita maksud, sedang matematika dalam pikiran adalah obyek yang masih
kita pikirkan. Menurut Plato sifat matematika itu ada dua yaitu idealisasi dan
abstraksi yang merupakan benda pikir. Atas dasar pemikiran Plato inilah
akhirnya kita mempelajari apa itu matematika.plato merupakan tokoh matematika
formal, matematika yang saat ini kita pelajari diperguruan tinggi. Tingkatan
tingkatan matematika dari yang tertinggi ke yang terendah atau dari tingkat
dimana kita mempelajarinya adalah sebagai berikut:
Matematika
formal yang menjadi tokohnya adalah Plato, dan matematika formal ini dipelajari
di tingkat perguruan tinggi. Model formal, misalkan saya ambil contoh tentang
integral, maka model formal merupakan suatu cara untuk menggambarkan fungsi
integral agar mempermudah dalam penghitungan. Model formal ini kita pelajari
ketika di SMA atau pun perguruan tinggi. Yang berikutnya adalah model kongkrit
yang kita pelajari ketika SMP sedangkan Matematika kongkrit kita pelajari
ketika SD. Dimana keduanya ini merupakan matematika diluar pikiran, yang menjadi
tokoh dari kedunya adalah Aristoteles.
Tuhan
ada diluar/didalam pikiran kita itu ada satu atau yang sering disebut dengan
monoisme. Sedangkan Tuhan ada diluar/didalam pikiran kita ada banyak disebut
dengan pluralisme. Menurut Brouwer, matematika
itu tidak mempunyai dasar hanya sebuah intuisi saja, atau sering disebut
Antifoundalisme/intuitisim. Sedang
orang percaya pada teorema karena adanya definisi disebut dengan foundationalis, hal ini menurut Helbert.
Dengan adanya Helbert ini maka adanya teorema dan aksioma. Imanuel kant
berpendapat bahwa matematika itu berasal dari pikiran dan pengalaman atau
sering disebut sintetik apriori.
Sedang Francis Bacon berpendapat bahwa yang tampak semu adalah berhala.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar